KULIAH BERBASIS MASYARAKAT

Bertepatan dengan hari Rabu, 2 Januari 2019 dalam menyabut tahun baru Prodi BKI (Bimbingan Konseling Islam) semester VII dibawah bimbingan Bapak Didik Himmawan, SS., M.Pd.I. sebagai dosen pengampu Mata kuliah Pemberdayaan Masyarakat Islam telah melakukan proses learning by doing dengan pendekatan pembelajaran berbasis masyarakat. pembelajaran tersebut dilakukan dengan tujuan agar kegiatan perkuliahan selama satu semester bisa dilaksanakan secara interaktif, inspiratif, menantang, menyenangkan, dan memotivasi mahasiswa.

Dalam dunia perguruan tinggi sebagaimana telah dirumuskan oleh kementrian riset teknologi dan pendidikan tinggi bahwasanya kompetensi yang harus dikembangkan melalui kegiatan perkualiahan adalah: pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. dalam hal ini kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan bukanlah seperti menara gading yang menjauh dari realita sosial, akan tetapi pembelajaran harus melibatkan unsur-unsur kemasyarakatan agar mahasiswa bisa trampil dan cerdas secara akademik dan cerdas secara dunia nyata.

sistem sosial dan dinamika sosial bersifat dinamis dan terus bergerak akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. oleh karena itu pelaksanaan perkuliahan harus dilakukan dengan metode dan pendekatan yang komprehensif, bukan pendekatan yang konvensional. berikut ini adalah catatan, bukti, dan ringkasan hasil pembelajaran berbasis masyarakat.

 

NOTULENSI KEGIATAN OBSERVASI  DI DESA MAJASARI KECAMATAN SLIYEG

Mata Kuliah                    : Pemberdayaan Masyarakat Islam

Hari/Tanggal                  : Rabu, 02 Januari 2108

Waktu                               : 13.30 s/d Selesai

Fakultas/Prodi/Semt : FAI/BKPI/VII

Nama mahasiswa         :

  1. Ela Sopiah Anggraeni
  2. Sri Rahayu Utami
  3. Nadyatul Umami
  4. Siti Maria Ulfah
  5. Uswatun Khasanah
  6. Raka Indra lukmana
  7. Raihan Fazari basyar

Terkait dengan observasi yang kami lakukan di desa majasari, terdapat hasil wawancara dari Kuwu desa yang bernama Wartono S.Pd, M.Si. adapun hasilnya diantaranya yaitu :

  1. Majasari merupakan salah satu desa terbaik nasional di regional 2 wilayah Jawa dan Bali pada tahun 2016
  2. Beberapa kegiatan yang terkait dengan perberdayaan masyarakat islam yaitu :
  3. Melaksanakan sholat tarawih keliling

Dalam kegiatan ini dilaksanakan pada bulan ramadhan, yang setiap hari nya diadakan sholat tarawih keliling di beberapa masjid/mushola yang ada didesa majasari guna untuk mengenal masyarakat dan terjalin hubungan silaturahim.

  1. Gerakan Majasari Magrib Mengaji

Awal mula kegiatan ini dilaksanakan karena terinspirasi dari peraturan Bupati yang menganjurkan setiap sekolah sebelum melaksanakan KBM diadakan ngaji bersama. Hal ini pun diterapkan di Desa Majasari. Bentuk kegiatannya yaitu anak-anak mengaji diengan ustadz nya masing-masing. Yang menjadi perbedaan dengan kegiatan mengaji lainnya yaitu adanya sosialisasi terhadap masyarakat bahwa jika anaknya tidak mengaji selama lebih dari 3 hari maka dikeluarkan dari kelompok ngajinya sehingga hal tersebut menjadi hal yang diwajibkan mengaji bagi anak-anak yang ada di Desa Majasari.

1.ISMAR (Infaq, shodaqoh mayarakat Majasari)

Kegiatan yang dibuat oleh desa dari hasil ISMAR tersebut diberikan kepada ustadz/kyai yang terlibat dalam kegiatan gerakan majasari magrib mengaji.

2. Majelis Ta’lim

Kegiatan majelis ta’lim yang ada di majasari terdapat 36 kelompok majelis ta’lim. Yang menjadi menarik dari kegiatan majelis ta’llim ini ada salah satu diantaranya yaitu majelis ta’lim yang diadakan setiap minggu pagi yang anggotanya itu terdiri dari komunitas anak-anak punk, OI, viking, dll. Terlihat bahwa dalam hal ini tidak hanya sekelompok ibu-ibu saja yang mengikuti kegiatan tersebut, manfaat nya juga bisa dirasakan tidak adanya kesenjangan dari berbagai masyarakat juga terbagi rata dengan diberikannya pendidikan spiritual untuk masyarakat majasari.

3. Mularasa Budaya

Kegiatan ini diadakan setiap hari jum’at dengan bentuk kegiatannya yaitu membiasakan masyarakat majasari dari mulai anak-anak, dewasa hingga tua untuk menghimbau agar membiasakan untuk berkomunikasi dengan basa krama. Hal ini bertujuan untuk melestarikan bahasa.